HARIANTERKINI.COM – Guru Besar sekaligus Wakil Rektor Universitas Pattimura (Unpatti), Freedy Leiwakabessy, mengakui saat ini daerah mengalami banyak kemajuan dengan berbagai terobosan yang diambil sejak awal kepemimpinan Jokowi.
BACA JUGA : APBN SURPLUS 0,06 PERSEN PER MARET 2022
Presiden Joko Widodo (Jokowi) dinilai membawa perubahan besar terhadap pembangunan Indonesia selama menjabat 2 periode.
“Kalau kita keluar ke daerah lain kita baru merasakan bahwa sekarang Indonesia begitu berbeda jauh dari sebelum Jokowi,” kata Freedy di Ambon, Sabtu, 14 Mei 2022.
Freedy mengatakan Jokowi memiliki visi besar terhadap masa depan Indonesia. Pemikirannya tentang Indonesia Emas 2045 sudah menjadi ide brilian yang dimunculkan. Semua itu telah melewati fondasi melalui pembangunan.
“Kalau saya melihat (pemikiran Jokowi) luar biasa pemikirannya untuk bagaimana saya sendiri mengevaluasi secara kasat mata sebagai seorang guru besar,” jelas Freedy.
Dia mengatakan keberhasilan pembangunan saat ini tidak terlepas dari pelaksanaan kebijakan strategis Jokowi yang tepat sasaran. Sehingga mempercepat target pembangunan nasional.
“Kita seperti negara maju yang sudah terbuka kita punya infrastruktur yang luar biasa kita punya perencanaan pembangunan yang luar biasa,” ujar Freedy.
Pada kesempatan terpisah Ketua Bidang Advokasi dan Kemasyarakatan Masyarakat Transportasi Indonesia (MTI) Pusat, Djoko Setijowarno, mengatakan pembangunan jalan tol di era kepemimpinan Presiden Joko Widodo (Jokowi) efektif dalam memangkas waktu perjalanan pemudik. Kendati demikian, Djoko juga mendorong infrastruktur transportasi massal juga dibangun secara masif di daerah tujuan mudik untuk meminimalisir penggunaan kendaraan pribadi.
“Pembangunan tol secara masif di era kepemimpinan Presiden Joko Widodo cukup membantu memangkas waktu tempuh para pemudik yang menggunakan kendaraan pribadi cukup signifikan,” kata Djoko dalam keterangan tertulis, Sabtu (14/5/2022).
“Sebelum terhubung jalan Tol Trans Sumatera, waktu perjalanann di kala mudik untuk mencapai wilayah perbatasan Jatim-Jateng kisaran 30 sampai 35 jam. Sekarang, setelah terhubung lama perjalanan kisaran 12 sampai 15 jam,” imbuh Djoko.
Djoko menilai sudah saatnya Pemerintah mengembangkan transportasi umum di destinasi mudik. Dia mendorong disediakannya anggaran untuk hal tersebut.
“Saatnya pemerintah membenahi transportasi umum di tempat tujuan mudik. Pemerintah dinilai perlu menganggarkan dana alokasi khusus (DAK) untuk pembenahan transportasi umum di daerah-daerah tujuan mudik,” ucap Djoko.
Djoko menerangkan, pengembangan transportasi massal di daerah tujuan mudik diharapkan dapat mengurangi jumlah pemudik yang menggunakan kendaraan pribadi. Dengan demikian, potensi kemacetan berkurang.
“Selama ini, salah satu faktor pendorong banyak pemudik pilih menggunakan kendaraan pribadi, yang menyebabkan kemacetan panjang selama arus mudik saat pulang kampung, adalah ketiadaan transportasi umum yang memadai di kampung halaman,” ujar dia.
“Itu mestinya Pemerintah pusat punya dana alokasi khusus (DAK) untuk membenahi transportasi umum di daerah. Kalau itu sudah, kelompok-kelompok kecil ini diangkut pakai bus gratis sekalian. Selain sepeda motor itu, di kampung halaman tidak ada angkutan umum lagi,” tutur dia.
Djoko menyampaikan pada negara yang lebih maju dari Indonesia, transportasi massal di daerah tujuan mudik sudah berkembang. Dia lalu memaparkan saat ini baru beberapa kota di Jawa yang transportasi umumnya relatif memadai untuk membantu distribusi para pemudik ke kampung halaman masing-masing.
“Sebagai contoh di Jawa ada Bus Trans Semarang di Semarang, Bus Batik Solo Trans (Solo Raya), Bus Trans Banyumas (Kab. Banyumas), Bus Semanggi Surabaya di Surabaya, Trans Pakuan di Bogor, Trans Yogya di Yogyakarta, Trans Metro Pasundan (Bandung Raya), Bus Trans Jateng atau KRL Solo-Yogyakarta,” papar Djoko.
Table of Contents
