HARIANTERKINI.COM, JAKARTA – Badan Pengelola Investasi (BPI) Danantara membangun ekosistem perumahan yang terintegrasi untuk mempercepat dan memperluas akses masyarakat terhadap hunian berkualitas dengan harga terjangkau. Upaya tersebut menjadi bagian dari dukungan terhadap Program 3 Juta Rumah yang merupakan salah satu prioritas pemerintah.
CEO BPI Danantara, Rosan Roeslani, mengatakan kolaborasi lintas sektor diperlukan untuk menyediakan hunian yang dapat memenuhi kebutuhan masyarakat. Melalui Danantara Housing Expo 2026, Danantara mendorong terciptanya ekosistem yang menghubungkan industri bahan bangunan, pengembang, kontraktor hingga lembaga pembiayaan.
Menurut Rosan, terdapat tiga hal utama yang ingin didorong melalui ekosistem tersebut, yakni ketersediaan rumah berkualitas dengan harga terjangkau, skema pembiayaan yang kompetitif, serta kemudahan akses bagi masyarakat untuk mendapatkan hunian.
Dari sisi pembiayaan, Danantara mendorong sinergi antara bank-bank Himpunan Bank Milik Negara (Himbara) dan lembaga keuangan dalam ekosistem BUMN. Kolaborasi tersebut diharapkan dapat memberikan pilihan kredit perumahan yang lebih kompetitif dan terjangkau bagi calon pembeli rumah.
Menteri Perumahan dan Kawasan Permukiman (PKP) Maruarar Sirait menyebut Danantara Housing Expo menjadi sarana strategis yang mempertemukan masyarakat dengan pelaku industri perumahan. Melalui kegiatan tersebut, masyarakat diharapkan lebih mudah memperoleh informasi mengenai pilihan hunian sekaligus akses pembiayaan yang sesuai dengan kebutuhan.
Dukungan juga datang dari sektor industri bahan bangunan. PT Semen Indonesia (Persero) Tbk atau SIG menghadirkan solusi material yang diklaim dapat meningkatkan efisiensi pembangunan. Salah satunya melalui inovasi Bata Interlock Presisi yang dirancang untuk mempercepat proses konstruksi sekaligus mendukung penggunaan material secara berkelanjutan.
Danantara Housing Expo 2026 berlangsung pada 27–30 Agustus 2026 dan menghadirkan lebih dari 120.000 pilihan properti dari 130 pengembang BUMN maupun swasta. Pilihan hunian tersebut terbagi dalam kategori First Home, Family Home, dan Premium Living.
Sementara itu, 12 pengembang BUMN menawarkan sebanyak 16.559 unit rumah yang berasal dari 98 proyek di 23 provinsi. Nilai inventori properti tersebut mencapai Rp9,79 triliun, dengan 6.611 unit di antaranya dialokasikan khusus bagi Masyarakat Berpenghasilan Rendah (MBR).
Integrasi antara pengembang, industri bahan bangunan, kontraktor, perbankan, dan lembaga keuangan tersebut diharapkan dapat memperkuat ekosistem perumahan nasional. Dengan demikian, masyarakat tidak hanya memperoleh lebih banyak pilihan hunian, tetapi juga mendapatkan akses pembiayaan yang lebih mudah dan terjangkau untuk mendukung pencapaian Program 3 Juta Rumah.
Baca Juga: Mensos beri motivasi siswa baru saat sambangi Sekolah Rakyat Jakarta
