HARIANTERKINI.COM – Meningkatnya perhatian dunia terhadap penyebaran Hantavirus dipicu oleh insiden kematian sejumlah penumpang kapal pesiar MV Hondius akibat infeksi varian Andes. Berdasarkan laporan World Health Organization, sedikitnya tiga orang meninggal dunia dari lima kasus terkonfirmasi setelah mengalami gangguan pernapasan berat dalam pelayaran lintas negara. Dua korban diketahui merupakan pasangan peneliti burung yang sebelumnya melakukan perjalanan ke Argentina, Chile, dan Uruguay, wilayah yang dikenal sebagai habitat penyebaran varian Andes dari Hantavirus.
Pakar penyakit tropik dari Ikatan Dokter Anak Indonesia, Dominicus Husada, menjelaskan bahwa sumber paparan kemungkinan besar berasal dari wilayah Amerika Selatan sebelum para korban naik ke kapal. Ia menegaskan bahwa kapal berbendera Belanda tersebut menerapkan standar sanitasi ketat sehingga tidak ditemukan keberadaan tikus sebagai reservoir utama virus. Meski demikian, sejumlah negara seperti Inggris, Amerika Serikat, dan Singapura mengambil langkah antisipatif dengan melakukan isolasi terhadap penumpang yang turun dari kapal.
Di Indonesia sendiri, Kementerian Kesehatan mencatat bahwa Hantavirus bukan merupakan ancaman baru karena telah terdeteksi sejak 2015. Sepanjang periode 2024–2026 tercatat 23 kasus positif varian Seoul yang tersebar di sembilan provinsi, termasuk Jakarta, Daerah Istimewa Yogyakarta, dan Jawa Barat. Seluruh kasus di Indonesia diketahui berasal dari varian Seoul yang berbeda karakteristik dengan varian Andes. Varian Seoul umumnya ditularkan melalui paparan hewan pengerat dan belum menunjukkan pola penularan antarmanusia seperti yang terjadi pada varian Andes.
Dominicus Husada menegaskan bahwa masyarakat tidak perlu merespons isu ini secara berlebihan, namun tetap harus meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi penyebaran penyakit zoonosis. Varian Andes diketahui menjadi satu-satunya jenis Hantavirus yang dapat menular antarmanusia melalui kontak erat dan memiliki tingkat fatalitas tinggi. Ia mencontohkan kejadian di Argentina pada 2018–2019 ketika tiga orang yang terpapar tikus pembawa virus kemudian menularkan kepada 34 orang lain, dengan sekitar sepertiga korban meninggal dunia. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa pengawasan kesehatan masyarakat, pengendalian populasi hewan pengerat, serta edukasi terkait sanitasi dan deteksi dini tetap menjadi langkah penting dalam mitigasi risiko penyebaran Hantavirus.
