HARIANTERKINI.COM-JAKARTA, Tuberkulosis (TBC) masih menjadi masalah kesehatan serius di Indonesia. Negara ini menempati peringkat kedua tertinggi di dunia dalam jumlah kasus TBC, dengan lebih dari satu juta kasus aktif setiap tahun dan sekitar 134.000 kematian—setara dengan 14 orang meninggal setiap jam akibat penyakit ini. Angka yang mencengangkan ini mencerminkan betapa pentingnya langkah pencegahan dan pengendalian TBC, salah satunya melalui imunisasi dan pengembangan vaksin yang lebih efektif.
Imunisasi TBC di Indonesia sudah berlangsung sejak tahun 1973 dengan penggunaan vaksin BCG (Bacillus Calmette-Guérin). Vaksin ini terbukti cukup efektif dalam mencegah TBC berat pada anak-anak, terutama TBC milier dan meningitis TBC. Namun, efektivitas vaksin BCG terhadap TBC paru pada orang dewasa—jenis TBC yang paling umum dan menular—masih terbatas. Inilah sebabnya, meskipun program imunisasi telah berjalan selama puluhan tahun, laju penularan TBC masih tinggi.
Dr. Samiah Alifah, Periset Kesehatan mengatakan bahwa, salah satu tantangan besar adalah kurangnya kesadaran masyarakat terhadap pentingnya imunisasi. Masih banyak warga yang memiliki persepsi keliru atau dipengaruhi hoaks terkait vaksin. Kekhawatiran terhadap efek samping, kepercayaan terhadap informasi tidak valid, dan kurangnya edukasi menjadi hambatan besar dalam meningkatkan cakupan imunisasi.
Sementara itu, Sekretaris Jenderal Kementerian Kesehatan RI, Kunta Wibawa Dasa Nugraha, menyatakan bahwa rumor dan ketidakpercayaan terhadap vaksin masih menjadi tantangan serius, Ujarnya.
Peran tenaga kesehatan di lapangan sangat krusial. Puskesmas dan posyandu harus menjadi garda terdepan dalam memberikan edukasi yang benar, meyakinkan masyarakat, dan memfasilitasi akses vaksin secara merata. Dukungan pemerintah dalam penguatan Program Imunisasi Nasional (PIN) juga sangat penting.
Dalam rangka meningkatkan efektivitas vaksinasi, Indonesia kini terlibat dalam uji klinis tahap 3 vaksin TBC baru, M72/AS01E, yang dikembangkan dengan dukungan dari Bill & Melinda Gates Foundation. Vaksin ini sebelumnya telah menunjukkan efektivitas hingga 50% dalam uji tahap 2B dan diperkirakan mampu mencegah jutaan kasus jika terbukti berhasil. Indonesia menjadi salah satu negara kunci dalam uji klinis ini karena tingginya beban kasus dan kesiapan infrastruktur riset. Sekitar 2.000 dari 20.000 peserta uji coba berasal dari Indonesia.
Namun, persepsi negatif terhadap uji klinis masih menjadi penghalang. Anggapan bahwa peserta dijadikan “kelinci percobaan”, serta adanya kelompok anti-vaksin dan teori konspirasi, menimbulkan ketidakpercayaan. Oleh karena itu, transparansi dalam penyampaian informasi dan edukasi berkelanjutan menjadi sangat penting agar masyarakat memahami manfaat uji coba tersebut bagi kesehatan publik.
Hal tersebut menjadi penting karena keberhasilan vaksin M72/AS01E diharapkan dapat memberikan perlindungan menyeluruh, terutama bagi orang dewasa. Pengendalian TBC tidak cukup hanya dengan vaksinasi, tetapi juga memerlukan pemeriksaan dini, pengobatan tuntas, serta penghapusan stigma terhadap penderita sehingga kolaborasi antara pemerintah, tenaga kesehatan, dan masyarakat, serta dukungan terhadap pengembangan vaksin baru, Indonesia memiliki peluang nyata untuk mengeliminasi TBC dan menyelamatkan jutaan nyawa di masa depan.
Baca juga : Harmoni Lingkungan, Budaya, dan Toleransi Beragama
