Covid -19 varian JN.1 meningkat di Indonesia

HARIANTERKINI.COM – kasus COVID-19 di Indonesia masih terus meningkat sampai hari ini. Berdasarkan laman Kementerian Kesehatan RI melalui infeksi emerging, tercatat ada 361 kasus terkonfirmasi positif. Pada periode yang sama, tercatat ada 2.557 kasus aktif, diiringi kasus sembuh sebanyak 240 orang dan dua kasus meninggal.

 

Kemenkes RI beberapa waktu lalu mengonfirmasi temuan kasus COVID-19 varian JN.1, sublineage dari Omicron BA.2.86 ini diyakini sudah mulai dominan di sejumlah negara, termasuk Indonesia. Laporan ini tidak jauh berbeda dengan banyak negara lain yang kembali mencatat lonjakan kasus COVID-19 varian JN.1.

 

Varian COVID-19 ini diketahui memiliki karakteristik lebih menular dibanding COVID-19 varian maupun subvarian lainnya. Bahkan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) resmi mengklasifikasikan varian JN.1 sebagai ‘variant of interest’ (VoI) atau varian virus SARS-CoV-2 yang memiliki kemampuan genetik yang dapat memengaruhi karakteristik virus. varian tersebut diklaim tidak menimbulkan banyak ancaman terhadap kesehatan masyarakat. Juga, tingkat fatalitas dan kematian yang disebabkan varian tersebut tidak tinggi.

 

Penularan subvarian omicron yang di sebut BN.1 ini memang tergolong cepat dan ada peningkatan kasus di berbagai negara, termasuk Indonesia dalam dua bulan terakhir. Namun bagi yang pernah terinfeksi COVID-19 sebelumnya dan melakukan vaksin lengkap, akan terbentuk sistem imun yang otomatis menangkal virus baru ini sehingga gejalanya tidak separah dahulu.

 

“Dalam data terakhir Badan Pusat Statistik terungkap, selain gejala-gejala yang biasa dilaporkan oleh pengidap COVID sebelumnya, seperti pilek, batuk, sakit kepala, dan lemas, ada juga yang mengaku mengalami kesulitan tidur dan kecemasan juga,” The Mirror melaporkan mengutip ONS Inggris.

 

Badan tersebut mengungkapkan, pandemi COVID-19 telah dikaitkan dengan peningkatan tingkat stres, kecemasan dan ketidakpastian, yang menyebabkan peningkatan gangguan tidur. Meningkatnya stres dan kecemasan bisa memicu insomnia, sehingga menyulitkan individu untuk tertidur atau tetap tertidur.

 

Rentetan informasi terkait pandemi, masalah kesehatan dan perubahan gaya hidup secara terus-menerus berkontribusi pada gangguan pola tidur. Selain itu, virus itu sendiri bisa menyebabkan masalah pernapasan, rasa tidak nyaman, atau demam, yang berdampak pada kualitas tidur. Tidur yang cukup sangat penting untuk sistem kekebalan tubuh yang sehat, sehingga mengatasi kesulitan tidur akibat COVID-19 sangat penting untuk kesehatan secara keseluruhan selama masa-masa sulit ini.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *