HARIANTERKINI.COM: Beragam jenis hutan tersebar di seluruh dunia, termasuk hutan-hutan di Kawasan Asia Tenggara. Hutan memiliki fungsi sebagai pemasok oksigen, menjaga keseimbangan ekosistem, tempat tinggal berbagai jenis flora dan fauna dan memiliki fungsi secara ekonomi bagi masyarakat.
Namun dibalik semua manfaat tersebut, terdapat potensi bahaya yang mengancam ekosistem hutan khususnya pada musim kemarau tahun 2023 bersamaan dengan El Nino. Bahaya yang mengancam diantaranya adalah munculnya kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) seperti pada bulan Agustus-September 2023 terjadi kebakaran hutan yang melanda sejumlah wilayah di Sumatera dan Jawa.
Fenomena El Nino
Fenomena El Nino (pengering hujan) dan Indian Ocean Dipole (IOD) yang datang pada tahun 2023 diprediksi membuat puncak musim kemarau tahun ini lebih kering dari sebelumnya. Musim kemarau panjang ini menyebabkan beberapa ancaman, seperti gagal panen, kekeringan, dan kebakaran hutan.
Dwikorita Karnawati (Kepala BMKG) menyatakan bahwa El Nino diprediksi masih berlangsung hingga awal 2024 berdasarkan analisis terhadap data suhu muka laut di Samudra Pasifik. Gangguan iklim El Nino yang muncul mulai pertengahan Mei 2023 tersebut terus berkembang hingga mencapai level moderat pada akhir Juli 2023. Saat ini El Nino berada pada nilai positif sebesar 1,504.
Sebanyak 37,5 persen zona musim di Indonesia mengawali musim kemarau lebih awal dari normalnya. Secara bertahap, mulai April hingga Juni 2023, wilayah lainnya mulai memasuki musim kemarau. Saat ini sekitar 78,5 persen dari total zona musim atau sebagian besar wilayah Indonesia telah memasuki musim kemarau.
Karhutla
Kabut asap menjadi peristiwa yang sering terjadi di Indonesia dimana faktor penyebab terjadinya kabut asap adalah Karhutla di lahan gambut, kawasan hutan, maupun padang rumput di pegunungan akibat dari kemarau panjang. Saat ini, kabut asap menyelimuti wilayah Sumatera, berdasarkan informasi pada 15 September 2023 terdeteksi di 8 Provinsi di wilayah Sumatera dengan 934 titik panas (hotspot) Karhutla dan hotspot terbanyak di Provinsi Sumatera Selatan (Sumsel) sebanyak 549 titik.
Karhutla terjadi di Kalimantan Barat hingga pemerintah daerah menetapkan status tanggap darurat bencana asap dan terjadi di Penajam Paser, Kalimantan Timur, lokasi Ibu Kota Nusantara. Selain itu, Nusa Tenggara Timur tercatat terjadi di Kecamatan Ile Bura, Flores Timur.
Di Jawa Timur, Karhutla juga melanda sejumlah gunung dan bukit. Kebakaran di Gunung Arjono misalnya, sampai dengan pekan lalu setidaknya 916,33 hektare lahan terbakar. Flora yang ikut terbakar dalam bencana ini antara lain alang-alang, semak belukar, dan cemara. Area yang terbakar tersebar di wilayah Kota Batu, Kabupaten Mojokerto, Kabupaten Malang, dan Kabupaten Pasuruan. Selain hutan, padang savanna juga berpotensi mengalami kebakaran hutan, seperti yang terjadi di Blok Savana Lembah Watangan, Gunung Bromo, Jawa Timur. Sumber api ini berasal dari ulah pengunjung yang menggunakan flare saat sesi foto prewedding pada Rabu, 6 September 2023. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Malang memperkirakan setidaknya 500 hektare lahan di kawasan wisata Gunung Bromo terdampak dan proses pemadaman sulit dilakukan. Akhirnya, wisata Gunung Bromo ditutup untuk sementara waktu.
Adapun penyebab Karhutla bermacam macam, yakni alam dan ulah manusia. Alam berisiko menyebabkan kebakaran ketika musim kemarau panjang tiba atau gunung berapi erupsi. Sementara ulah manusia bisa menjadi penyebab kebakaran hutan karena dipicu kecerobohan, seperti membuang puntung rokok sembarangan, menebang pohon secara illegal, dan lainnya.
Polusi Asap
Polusi asap dapat menyebar dengan cepat di udara dan berpotensi menyebar ke negara tetangga, contohnya peristiwa tahun 2015 dan 2019 pernah terjadi Karhutla yang mengakibatkan polusi asap lintas batas. Polusi asap dapat membawa dampak bagi kehidupan masyarakat, diantaranya munculnya Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA), penyakit asma, dan kanker paru-paru. Selain itu, karhutla juga mengakibatkan berkurangnya sumber air bersih dan bencana kekeringan, karena tidak ada lagi pohon untuk menampung cadangan air.
Berkaitan dengan hal tersebut, Presiden Joko Widodo telah berulangkali mengingatkan untuk memprioritaskan pencegahan dan mewaspadai terjadinya Karhutla dengan mengaktifkan kembali satgas-satgas untuk mengantisipasi Karhutla. Masyarakat harus selalu berhati-hati dalam melakukan tindakan yang dapat merusak hutan, terlebih pada kondisi kemarau saat ini, karena jika ada sedikit saja sumber api dapat merambat ke daerah lain yang akan membahayakan lingkungan dan kesehatan. Hutan yang sudah terbakar akan sulit dilakukan proses reboisasi karena membutuhkan waktu yang lama dan menghabiskan anggaran yang besar.
Pencegahan kebakaran hutan dan kelestarian hutan adalah kewajiban bagi seluruh masyarakat Indonesia.
BACA JUGA:
- Tokoh Agama Papua Mengecam Pembunuhan Aktivis Perempuan Papua
- Masa Endemi dan Varian Baru Covid-19
- Jokowi Tekankan Seluruh Anggota G20 Jaga Soliditas Tentukan Arah Pembangunan Dunia
Table of Contents
