Puber Kedua : Milik siapa… ?

Puber Kedua : Milik siapa… ?
HARIAN TERKINI.COM : – Puber kedua, milik siapa telah kembali hadir yaa. Sahabat, istilah puber kedua ini juga dikenal dengan krisis paruh baya (midlife crisis), yaitu gejala psikologis yang terjadi karena perubahan kehidupan.   Istilah ini merujuk pada perubahan kebiasaan atau sikap yang dialami seseorang ketika memasuki usia sekitar 40-an. Puber kedua biasanya dikaitkan pada cowok, meski wanita juga bisa mengalaminya.

Menurut American Psychological Association, midlife crisis adalah bentuk krisis emosional yang menyebabkan adanya perubahan besar atau puber dalam perilaku sebagian orang. Biasanya terjadi berbeda-beda dan dapat mengarah pada hal-hal yang negatif, seperti merugikan diri sendiri maupun orang lain bahkan dalam kondisi yang serius, puber kedua bisa berujung pada depresi, tidak percaya diri maupun gangguan mental lain.  Namun, ada pula yang justru merasa dirinya kembali muda dan merasa ingin selalu menjaga penampilan atau bergaya lebih kekinian.  Karena saat mengalami puber kedua, seseorang bisa melakukan hal-hal yang impulsif, seperti membeli banyak barang mewah, berselingkuh, atau mengubah haluan hidupnya secara drastis.

Sementara mengutip yang disampaikan Konsultan Andrologi-Urologi, dr Widi Atmoko, SpU(K) dalam webinar Men’s Health and Couple Clinic yang menyebut pada usia 40-an tahun ke atas, pria mengalami kebalikan dari pubertas atau andropause, dan  wanita terjadi menopause. Pada masa andropause atau menopause, pria dan wanita bisa mengalami gejala fisik, psikologis, maupun seksual, seperti memiliki masalah depresi, libido rendah, dan disfungsi seksual.
Namun demikian, sebuah statistik menyatakan 80 persen dari pernikahan melalui krisis paruh baya ini justru mampu bertahan dan kembali hidup bahagia.  Para ahli juga mengatakan krisis ini berlangsung selama 3 sampai 10 tahun pada pria dan 2-5 tahun pada wanita (antara usia 40 sampai 60).

Melansir Verywell Mind, sebuah survei bertajuk Midlife in the United States mengeluarkan polling. Survei mengungkapkan, hanya sekitar 26 persen peserta yang mengalami midlife crisis. Kebanyakan peserta survei melaporkan midlife crisis terjadi sebelum usia 45 tahun atau setelah 50 tahun. Satu dari empat orang yang melaporkan mengalami midlife crisis mengatakan kondisi tersebut dipicu dari kejadian besar di hidup mereka, alih-alih sekadar faktor usia. Beberapa faktor tersebut termasuk perceraian, kehilangan pekerjaan, kehilangan orang tercinta, atau pindah tempat tinggal. Banyak dari mereka yang mengalami midlife crisis mempertanyakan tentang sejumlah hal dalam hidup. Misalnya, menyesali karir di masa lalu atau mempertanyakan kenapa mereka tidak bisa hidup di kehidupan yang mereka impikan dulu.

Psikolog Rosdiana Setyaningrum M.Psi. MHPEd menyampaikan bahwa tidak ada istilah puber kedua dalam ilmu psikologi.  Beberapa orang yang terkesan mengalami fase puber kedua, merupakan orang-orang yang baru mendapatkan ‘pencapaian’ di usia matang, jadi dia melakukan hal-hal yang ingin dilakukan pada saat muda dulu.  Sementara orang-orang yang merasa pencapaian hidupnya sudah baik sejak masih muda, cenderung tidak mengalami fase yang disebut puber kedua.

Saat mengalami masa ini, akan merasakan banyak keraguan yang muncul dalam hidup. Keraguan inilah yang mendorong seseorang paruh baya untuk mencari makna dan tujuan hidup.   Beberapa hal lain yang dapat menjadi tanda puber kedua atau midlife crisis diantaranya adalah Penurunan kebahagiaan dan kepuasan hidup; Tidak puas dan bosan akan hubungan, karier, atau kehidupan secara umum; Perubahan suasana hati, termasuk mudah marah dan sedih; Gelisah dan ingin melakukan hal-hal baru; Ragu atau selalu mempertanyakan keputusan yang telah dibuat bertahun-tahun sebelumnya; Sering melamun; Bingung tentang diri sendiri atau arah dan tujuan hidup; Asupan makanan dan konsumsi minuman beralkohol meningkat; Penurunan atau peningkatan hasrat seksual yang signifikan; Perselingkuhan yang sering kali terjadi dengan seseorang yang usianya jauh lebih muda; Lebih berambisi dalam mencapai suatu hal atau justru tidak memiliki ambisi sama sekali.

Nah, agar dapat mengantisipasi dampak negatifnya, ayooo pahami dan kenali beberapa faktanya sehingga tepat dan manfaat dalam menghadapinya. Beberapa cara diantaranya : Bersikap tenang dan Terima perasaan yang muncul; Curhat dan bagikan kepada orang yang dipercaya; Renungkan hal-hal yang terjadi dalam hidup; Komunikasi sangat penting sehingga Luangkan waktu ekstra dengan pasangan atau anak-anak; Tetapkan tujuan baru dalam hidup; Lakukan hobi yang disukai dan positif serta dilakukan dengan benar.

Sahabat…apabila perkembangan yang terjadi semakin mengganggu aktivitas sehari-hari atau bahkan sampai memengaruhi hubungan, pertemanan dan pekerjaan, segeralah mencari bantuan profesional dengan konsultasi ke psikiater atau psikolog untuk mendapatkan penanganan yang tepat saat melewati masa sulit ini.   Selain itu, jangan memendam sendiri namun bicarakanlah dengan orang-orang terdekat dan tepat. Dengan begitu, beban akan terasa sedikit lebih ringan, mendapat pencerahan/solusi yang benar/positif.

Puber kedua juga memiliki pengaruh positif karena bisa membuat lebih penasaran atau ingin tahu tentang diri sendiri dan lingkungan sekitarnya, yang tentunya bisa menambah wawasan dan keterbukaan terhadap ide-ide baru, tentunya yang positip dan tidak merugikan diri sendiri maupun orang lain.

Nah, jadi kita akan atau menjadi bagian yang mana yaaa…  Jangan lupa juga, ada banyak bacaan terbaik lainnya yang dapat menjadi referensi dalam melewati tahapan istimewa ini.

Semangat sehat, sukses dan berbahagialah selalu…

 

BACA JUGA : Puber Kedua : Milik siapa…. ? (2)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *