David Sumual, Ekonomi Indonesia On The Right Track Di Gelombang Kedua COVID-19

david sumual-ekonomi-on-the-right-track Kepala Ekonom BCA - David Sumual

HarianTerkini.com – Kepala Ekonom BCA David Sumual memberikan keterangannya menyangkut ekonomi Indonesia saat ini. Berdasarkan pengamatannya roda ekonomi Indonesia sudah berada pada jalur yang benar (on the right track). Perekonomian nasional saat ini juga memiliki fondasi yang lebih baik dibandingkan tahun lalu. Dengan demikian, tak perlu ada yang dikhawatirkan dari kondisi ekonomi Indonesia.

David Sumual juga menambahkan agar roda ekonomi tetap melaju di jalurnya, pemerintah harus mempercepat vaksinasi dan mengatasi penyebaran Covid-19. Keputusan Presiden Jokowi memperpanjang Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) Darurat diharapkan mampu meredam gelombang kedua (second wave) corona.

Membaiknya laju perekonomian domestik tercermin pada sejumlah indikator, seperti PMI Manufaktur, kinerja ekspor, pertumbuhan produk domestik beruto (PDB), dan penyaluran kredit perbankan.

Sementara itu, saat mengumumkan perpanjangan PPKM Darurat pada Selasa (20/7) malam, Presiden Jokowi menjelaskan, pemerintah akan menambah anggaran perlindungan sosial (perlinsos) dan kesehatan sebesar Rp 55,21 triliun pada program Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN) 2021. Dengan demikian, total dana PEN akan meningkat dari Rp 699,43 triliun menjadi Rp 744,75 triliun.

Anggaran perlinsos meningkat Rp 33,98 triliun menjadi Rp 187,84 triliun dari sebelumnya Rp 153,86 triliun. Sedangkan anggaran kesehatan naik Rp 21, 02 triliun dari Rp 193,93 triliun menjadi Rp 214,95 triliun. PPKM Darurat diperpanjang hingga 25 Juli 2021. Keputusan ini diambil setelah pemerintah mengevaluasi pelaksanaan PPKM Darurat yang berlaku sejak 3 Juli hingga berakhir Selasa (20/7) kemarin.

Di sisi lain, melalui keterangan Sekjen Kementerian Ketenagakerjaan (Kemenaker), Anwar Sanusi dan Dirjen Anggaran Kementerian Keuangan (Kemenkeu), Isa Rachmatarwata  mengemukakan bahwa pemerintah juga berencana menjalankan kembali program Bantuan Subsidi Upah (BSU). Program subsidi ini sudah diimplementasikan pada 2020, namun sejak awal 2021 dihentikan.

On the Right Track

Sebagai praktisi di bidang perbankan, David Sumual menjelaskan, aktivitas perekonomian sebelum PPKM Darurat diterapkan pada 3-20 Juli 2021 menunjukkan tren membaik. Hal itu ditunjukkan oleh pertumbuhan kredit. Pada April 2021, kredit terkontraksi 2,6% secara bulanan (month to month/mtm) dan terkontraksi 2,8% secara tahunan (year on year/yoy). Pada Mei 2021, kredit tumbuh positif 0,9% (mtm) dan terkontraksi 1,28% (yoy).
“Namun pada akhir Juni lalu jumlah kasus positif Covid-19 meningkat, sehingga pemerintah terpaksa menerapkan ‘rem darurat’,” kata David Sumual saat dimintai keterangannya oleh HarianTerkini.com.
Menurut David, pola yang diterapkan saat ini secara umum sama dengan tahun lalu. Saat mobilitas masyarakat dibatasi atau diperketat, jumlah kasus Covid-19 menurun. Sebagai konsekuensinya, kegiatan ekonomi juga tertahan.
Paling penting, kata dia, tingkat okupansi tempat tidur di rumah sakit (bed occupancy rate/BOR) jangan sampai mendekati 100% seperti beberapa hari lalu. Kedua, perlu akselerasi vaksinasi. Sebab, Covid-19 hanya memberikan dua pilihan, yakni terpapar dengan berbagai risikonya atau melakukan vaksinasi.
“Penanganan Covid-19 dan ekonomi sudah on the right track, tapi memang ada konsekuensi pada kegiatan perekonomian. Jadi, untuk proyeksi pertumbuhan ekonomi pada kuartal III-2021 akan di bawah perkiraan,” ujar dia.
David Sumual optimistis mulai kuartal IV-2021 laju perekonomian nasional akan lebih baik lagi sejalan dengan mulai terciptanya kekebalan komunal (herd immunity) dan menurunnya kasus positif Covid-19. “Kondisi ini umumnya juga dialami negara-negara lain yang vaccination rate-nya seperti Indonesia,” tutur dia.
David Sumual mengungkapkan, pada 2-3 hari lalu, jumlah kasus Covid-19 di negara-negara Asean, bahkan AS, naik lagi. “Jadi, memang sulit karena airborne virus jadinya ya begini. Senjata kita tentu vaksinasi dan menerapkan prokes ketat,” tegas dia.
David menambahkan, dibandingkan tahun silam, perekonomian Indonesia saat ini memiliki fondasi yang lebih baik. Sebab, harga komoditas sudah lebih baik dibandingkan tahun lalu. Peningkatan ekspor komoditas setidaknya mampu meningkatkan cadangan devisa dan memperkuat nilai tukar rupiah.
Dia mengakui, mobilitas masyarakat menurun akibat PPKM Darurat, baik di perkantoran, ritel, rekreasi, maupun transportasi umum. Namun, aktivitas transaksi ekonomi secara keseluruhan tidak turun sedrastis tahun lalu. “Kelihatannya masyarakat sudah bisa beradaptasi, misalnya berbelanja secara online,” ucap dia.
Aktivitas di bidang esensial pun, kata dia, masih berjalan, termasuk kegiatan konstruksi atau kegiatan yang tidak menimbulkan kerumunan. “Tidak seperti tahun lalu yang disetop semua,” tandas dia.
Berdasarkan faktor-faktor itulah, David Sumual yakin penurunan ekonomi kuartal III-2021 tidak akan sedalam kuartal II. “Tapi ini kembali pada komitmen pemerintah yang harus konsisten dalam penanganan Covid-19 dan mempercepat vaksinasi supaya PPKM Darurat tidak terus diperpanjang. Kita harapkan kasusnya juga menurun,” papar dia.
Dia mencontohkan, penanganan Covid-19 di India membutuhkan waktu hampir dua bulan. “Indonesia, kalau bisa, harus lebih cepat dari itu, sambil mendorong agar BOR menurun melalui penyediaan alat kesehatan, seperti oksigen dan obat, yang memadai,” ujar dia.
Upaya pemerintah menjaga perekonomian dan penanganan Covid-19, menurut dia, sudah bagus. Hanya saja, belanja kesehatan di daerah belum optimal. “Ini juga ditegaskan oleh Kementerian Keuangan, terutama soal insentif tenaga kesehatan. Kedua, perlu ada percepatan pencairan dan pendistribusian bantuan sosial,” pungkas David Sumual

 

 

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *