Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) Indonesia Penny Lukito menerangkan alasan jumlah kasus positif corona atau Covid-19 dibanding negara lain seperti Brasil menjadi efikasi vaksin Sinovac pada uji klinis fase tiga di Indonesia lebih kecil.
Kasus Covid-19 di Indonesia berkisar di angka 800 ribu saat uji klinis tahap tiga digelar. Sementara di Brazil kasus positif Covid-19 mencapai 8 juta, sedangkan di Turki 2,5 juta saat uji klinis fase tiga dilaksanakan.
Selain itu, jumlah dan kategori relawan juga menentukan. Penny mengatakan Indonesia jadi negara dengan jumlah relawan vaksin paling sedikit, yaitu 1.600 orang.
Tingkat efikasi yang didapat Indoensia berbeda dengan negara lainnya. Brasil menyebut efikasi 78 persen, sedangkan di Turki 91,25 persen. Brasil kemudian mengungkap ada perubahan menjadi 50,4 persen pada Selasa (12/1).
Penny menambahkan salah satu pengukuran efikasi adalah membandingkan tingkat penularan Covid-19 di antara relawan yang disuntik vaksin dengan relawan yang disuntik plasebo atau obat kosong.
“Semakin banyak (relawan yang disuntik) plasebo terinfeksi karena mungkin intensitas (penularan virus di masyarakat) sangat tinggi, tentu akan semakin tinggi efikasinya,” ujar Penny
Indonesia juga melibatkan relawan dari seluruh kalangan masyarakat. Di saat yang sama, relawan vaksin di Brazil seluruhnya adalah tenaga kesehatan. Sementara di Turki, 20 persen relawan vaksin adalah tenaga kesehatan.
Banyaknya perbedaan itu, kata Penny, membuat tingkat efikasi di setiap negara tidak bisa dibandingkan.
“Bagaimana dinamika dari relawan itu di masyarakat setelah mendapat vaksin, itu sangat menentukan. Jadi, tidak bisa dibandingkan,” pungkasnya.
Baca juga: Vaksinasi Momentum Positif Tumbuhnya Perekonomian Nasional
