Kota Medan Butuh Sosok Baru untuk Atasi Banjir

Kota Medan Butuh Sosok Baru untuk Atasi Banjir
HARIANTERKINI.COM – Banjir masih menjadi satu problema yang tak kunjung ada habisnya di Kota Medan Setiap tahun bahkan setiap bulan apalagi saat musim penghujan tiba, banjir selalu saja terjadi. Sungai dan parit meluap, jalanan tergenang air, kubangan timbul di sejumlah jalan rusak, sekolah-sekolah dan tempat usaha juga tak luput dari genangan air.

Menurut pandangan Ketua Forum Daerah Aliran Sungai (DAS) Deli, Luhut Sihombing banjir mikro maupun makro di Medan merupakan buah dari disfungsionalnya salah satu sub-sistem dalam sistem bio-region, yaitu manusia dan sumberdaya. Peristiwa ini terjadi ketika aliran air yang berlebihan merendam daratan, yang disebabkan terjadinya hujan melebihi kapasitas daya serap tanah dan kapasitas aliran air.
Air tersebut akan menggenangi dari sekitarnya atau mengalir ke daerah yang lebih rendah lalu menggenangi jalanan, areal sekolah, rumah sakit, kampus, tempat usaha dan areal lainnya.

Akibat banjir yang menerpa kota Medan, Aktivitas ekonomi dan sosial lumpuh karena akses yang terputus, belum lagi kerusakan dan kerugian sektor infrastruktur serta kerugian sektor ekonomi produktif. Kota Medan sendiri secara alami memiliki potensi bahaya banjir yang sangat besar, baik secara spasial maupun temporal.

Kota Medan tidak boleh dikelola dengan biasa-biasa saja. Meletakkan anggaran untuk pencegahan banjir saja tidak cukup. Tapi harus dapat memastikan anggaran tersebut sudah digunakan dengan baik dan benar serta telah dirasakan masyarakat sebagai penerima manfaat.

Menurut Luhut, selama ini mitigasi banjir oleh Pemko Medan hanya sebatas perbaikan rutin. Padahal langkah tersebut sudah terbukti tidak efektif dan terkesan buang-buang anggaran. Banjir tetap saja terjadi dan cenderung makin parah dari tahun ke tahun. Dia mengatakan, banjir perkotaan adalah bencana yang bisa dikalkulasi dan harusnya bisa dihindari. Untuk itu perlu ada mitigasi baik mitigasi struktural dan mitigasi non-struktural. Mitigasi banjir struktural berupa pembangunan fisik dan secara langsung, seperti pengaturan debit banjir, meresapkan air hujan sebanyak mungkin ke dalam tanah dengan sumur dalam sungai, jalan aspal berpori, menyediakan daerah terbuka hijau dan mengalirkan air secepatnya ke sungai yang ada dengan perbaikan drainase secara komprehensif.

Mitigasi Banjir non-struktural tidak secara fisik, misalnya dengan kebijakan- kebijakan tertentu seperti pengendalian tata ruang, pengaturan daerah rawan banjir, dan peningkatan peran masyarakat serta pengelolaan daerah tangkapan air yang sustainable.

Perlu pemimpin yang memiliki komitmen kuat untuk mengatasi masalah banjir di Medan. Pemimpin yang bukan hanya berorientasi pada perbaikan drainase atau aliran sungai, tapi bagaimana bisa menghadirkan inovasi yang lebih bermanfaat. Dia ambil contoh seperti di Surabaya yang bisa membuat sumur dalam sungai, atau di beberapa negara yang bisa membangun jalan berpori yang berfungsi untuk serapan air.

Yang paling penting adalah, kota Medan sedang menanti sosok baru, butuh tangan baru yang bisa membuat kota Medan sebagai Paris Van Sumatera lebih baik, tidak banjir. Medan butuh pemimpin yang bisa berkoordinasi dengan seluruh pihak bung! Baik dari Pusat, Provinsi dan stakeholders lainnya dalam menangani masalah banjir.

Baca Juga : Dua Pengedar Ditangkap, Polisi Sita Sembilan Pohon dan 4,5 Kilogram Ganja

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *