HarianTerkini.com – Termasuk Indonesia banyak negara yang sudah serius mempertimbangkan penggunaan teknologi blockchain, misalnya Australia dan India yang telah membuat roadmap teknologi ini, juga USA yang di awal Maret 2020 mengadakan diskusi tentang benefit dari teknologi blockchain untuk memajukan UKM.
Blockchain saat ini bisa jadi menjadi teknologi yang paling hype. Selama 10 tahun terakhir, teknologi ini telah tumbuh sangat cepat, juga dikatalisasi oleh melonjaknya harga cryptocurrency dan kapitalisasi pasarnya. Sejak saat itu aplikasi ini terus dikembangkan, industri baru dan regulasi baru mulai muncul, kebutuhan engineer juga terus tumbuh di seluruh dunia.
Kita sudah melihat digitalisasi informasi (digitalization of information) di gelombang pertama internet dalam 10-20 tahun terakhir, lalu dari sekarang sampai 5-10 tahun ke depan dengan teknologi ini kita akan melihat digitalization of value, yang disebut juga “internet of value”.
Di Indonesia, sampai saat ini terdapat hanya ada 1 perusahaan teknologi yang menyediakan platform blockchain, yaitu Vexanium.com yang memungkinkan programmer dan digital entrepreneur membangun Decentralized Application (Dapp) di atas platformnya.
Teknologi ini memiliki beberapa karakter, antara lain, data yang dicopy ke banyak tempat (disebut miner/penambang) dan menggunakan konsep kriptografi, data yang hanya bisa ditambahkan – tidak bisa diedit/dihapus, menggunakan consensus mechanism, settlement yang instant.
Hal – hal apa saja yang perlu diketahui tentang teknologi ini ? yuk kita simak sebagai berikut :
1. Teknologi Blockchain bisa membuat barang digital menjadi unik
Sejak jaman internet muncul, para ilmuwan teknologi sudah mencari cara bagaimana bisa membuat uang seperti halnya file MP3 yang bisa dipindahkan ke seluruh dunia tanpa batas, tanpa proses settlement di belakangnya. Sedangkan uang tentu berbeda dengan file MP3, karena uang jika dipindah dari si Adi ke B, maka uang di titik awal harus dihapus/dipindah ke titik tujuan. Proses ini disebut dengan memecahkan masalah “double spending” karena setiap ada transaksi akan meminta konfirmasi ke nodes/penambang yang terlibat menjadi miner/penambang dalam jaringan blockchain tersebut.

2. Data yang aman
Karakter database yang tidak bisa dihapus dan diedit, membuatnya cocok digunakan di sektor industri di mana banyak pemain/perusahaan yang saling bersaing terlibat namun juga di saat bersamaan harus berkolaborasi. Misalnya industri supply chain, juga trade finance yang biasanya terkait ekspor impor barang di pelabuhan.
Misalnya di sektor supply chain, jika Anda ingin membeli furniture dan ingin memastikan bahwa furniture yang Anda beli tidak terkait dengan child labour atau sesuai dengan ketentuan tenaga kerja, atau, Anda ingin memastikan obat yang Anda beli adalah obat asli dan itu bisa di track dengan aplikasi. Jika menggunakan jenis database biasa yang memiliki akses database CRUD (Create, Read, Update, Delete) biasanya sulit karena di sektor industri tersebut melibatkan banyak kepentingan dalam proses perpindahan barang tersebut yang kadang-kadang bertentangan.

3. Blockchain bisa menghilangkan middleman
Teknologi blockchain memungkinkan terjadinya transaksi secara langsung (peer to peer) di antara customer dengan vendor/producer/penyedia jasa yang saat ini dikuasai oleh middleman yang kebanyakan adalah platform teknologi, di mana platform blockchain ini adalah “rahasia” supaya yang kaya menjadi tambah kaya dan menjadi penyebab terjadinya kesenjangan pendapatan

4. Teknologi blockchain bisa mengupgrade “sharing economy”
Sharing economy saat ini umumnya sangat membatasi vendor/penyedia jasa di dalamnya di mana para customer untuk menggunakan jasa vendor diharuskan menggunakan aplikasi dari si pemilik platform supaya pemilk platform bisa mengenakan fee. Kalau di platform teknologi ini, aplikasinya disebut Decentralized App (Dapp) – alias aplikasi tanpa middleman, karena transaksi bersifat peer to peer, maka tidak ada fee yang seringkali sangat tinggi kepada middleman.
Pemakaian aplikasi blockchain tidak harus dari developer platform seperti Vexanium, tetapi dalam eksekusinya atau pemakaian aplikasinya bisa membuat website sendiri, membuat aplikasi sendiri, bisa dipakai tanpa harus membayar fee ke pemilik platform dan juga bisa melakukan fundraising dari investor secara mandiri tanpa harus melibatkan pemilik platform (Vexanium).
Dalam angle atau sudut pandang yang sedikit berbeda, kemampuan platform ini untuk mengupgrade sharing economy dan juga untuk meredefinisi kapitalisme sangat berguna
5. Data berada di tangan user/customer
Dengan teknologi blockchain, kepemilikan data berada di user / customer, tidak dikuasai oleh platform teknologi besar.
Saat ini UKM online sangat tergantung pada platform teknologi multinasional raksasa dalam menjalankan bisnisnya karena karakter protocol internet HTTP yang tidak bisa menyimpan data, sehingga data disimpan oleh pihak ketiga (platform) yang bisa dimonetize tanpa ijin user. Namun dengan blockchain, kepemilikan data berada di user, user mau menjual atau tidak, terserah user. Termasuk seperti data medis user, mau diberikan akses ke rumah sakit yang mana, ya terserah user juga.
6. Blockchain bisa membuat bangsa Indonesia lebih maju
Inovasi blockchain adalah inovasi jenis market-creating yaitu bisa membuka pasar / peluang baru karena memungkinkan user untuk membuat sesuatu inovasi yang sebelumnya tidak bisa dilakukan oleh user, misalnya dengan dana sangat kecil (bisa di bawah 100 ribu) bisa berpartisipasi dalam investasi startup “the next big things” seperti Gojek (tidak harus menunggu IPO di mana sahamnya dijual dengan valuasi mahal), atau berpartisipasi dalam investasi property tanpa harus memiliki dana ratusan juta.
Ingat bahwa blockchain adalah teknologi pencatatan di mana kepemilikan saham dan property juga adalah terkait kepemilikan. Dengan teknologi blockchain dapat memungkinkan perusahaan untuk membuka market baru, maka perusahaan tersebut harus membangun infrastruktur untuk melayani market tersebut dan membuka lapangan kerja lebih luas untuk masyarakat.
Blockchain juga memungkinkan munculnya decentralized Finance yang berpotensi “memerdekakan” dunia finansial.
7. Blockchain bisa merevolusi sistem pencatatan
Sebelum era 2000an kita sama sekali tidak membayangkan menggunakan smartphone dan internet kita bisa berkomunikasi dengan teman sekolah SD kita dulu dengan social media atau chat app.
Teknologi blockchain akan mentransformasi sistem recordkeeping (database) seperti halnya internet mentransformasi cara kita berkomunikasi.
Di dalam dokumen blockchain yang sebelumnya tidak menambahkan value apapun, bisa berubah fungsinya menjadi lebih efisien karena penerapan blockchain, misalnya data – data untuk akta kelahiran, akta tanah, akta pernikahan dll.
Terkait sistem pencatatan, sedikit sharing saja tentang dampak dari “pencatatan” ini, bagi yang pernah belajar sistem akuntansi, pasti pernah dengar istilah “single entry accounting” yang memiliki banyak keterbatasan.
Di tahun 1500 ada ahli matematika yaitu yang bernama Luca Bartolomes Pacioli, bersama rekannya Leonardo Da Vinci, mempublikasikan buku berjudul “Summa de arithmetica, geometria, proportioni et proportionalita” yang memperkenalkan double entry accounting.
Apakah dampak dari double entry accounting ?
Jawabannya, perusahaan bisa dibuat, alias lahirnya kapitalisme.
Tetapi dengan menerapkan single entry accounting, “perusahaan” tidak bisa dibuat. Mungkin saja double entry accounting adalah “most influential work in the history of capitalism”.
Baca juga : Facial Recognition Dengan 8 Faktanya … Awesome
